Skip navigation

Jadi Anak Sekolahan Lagi

Terakhir merasakan dunia akademis yaa 7 tahun lalu. Harus mulai mengubah mindset jadi anak sekolahan lagi dan mengembalikan sel-sel otak yang sudah berkarat ini. Ritme belajar sengaja dibuat semacam orang kerja 9 – 5. Karena nggak cukup belajar hanya di kelas waktu dosen nerangin, tapi perlu juga self-study untuk review pelajaran dan mengerjakan tugas – tugas. Waktu istirahat juga dijadwal supaya nggak stress.

 

Sebelum Berangkat

Banyak juga yaa yang harus disiapkan sebelum sekolah, apalagi di luar negeri. Ini daftar yang aku buat seblum berangkat sekolah:

  1. Yaiyalah. Bawa baju harian secukupnya saja. Pastikan sesuai dengan musim yang sedang berjalan di negara tersebut. Walaupun di luar negeri, biasanya baju-baju murah juga tersedia, bahkan bisa saja lebih murah dari baju di Indonesia, apalagi pas musim diskon. Orang sini pun terbiasa dengan pasar baju bekas. Baju formal (batik dan jas) wajib dibawa karena biasanya banyak acara – acara formal yang diadakan, baik oleh kampus, persatuan pelajar, komunitas Indonesia, bahkan Konjen/KBRI.
  2. Makanan favorit. Walaupun supermarket Asia menjamur dimana-mana, dan supermarket lokal pun menjual bumbu-bumbu Asia, beberapa hari pertama mungkin kita masih sibuk unpack barang dan urus-urus administrasi sehingga nggak sempat belanja. Beli makan? Wah beli makan jadi pasti mahal bisa 2 – 3 kali lipat biayanya disbanding kita masak sendiri. Secara biaya upah di luar negeri yang lebih mahal.
  3. Akomodasi sementara. Waktu kita datang, biasanya pada musim liburan, banyak pelajar yang juga kembali ke negaranya masing-masing. Selama mereka kembali, akomodasi mereka disewakan sementara untuk para pelajar yang baru datang. Cek milis atau web dari PPI dari sekolah yang dituju, karena biasanya mereka punya list akomodasi sementara yang tersedia. Cek di Google Map juga lokasinya, jarak ke transportasi umum, kampus dan supermarket terdekat, ketersediaan kendaraan umumnya.
  4. Join group PPI dan tanya-tanya. Kalau masih bingung, nggak usah malu untuk bertanya \ke yang lebih senior, yang sudah lebih dulu tiba di sekolah yang dituju. PPI pun biasanya membantu proses orientasi dan adaptasi kita.
  5. Join Secondhand Online Market. Mungkin tidak semua sekolah atau kota yang punya. Tapi di Brisbane, ada semacam marketplace yang menjual barang-barang kebutuhan kita selama kuliah. Walaupun barangnya banyak yang secondhand (bekas), selama kita teliti dan cek barangnya sebelum dibeli, kita bisa dapat harga yang sangat bersahabat di kantong mahasiswa. Terlebih lagi pada akhir semester, dimana banyak pelajar yang back for good ke negaranya masing-masing, mereka akan menjual barang-barangnya dengan harga yang sangat murah, bahkan gratis.
  6. Dokumen diri dan keluarga. Bawa saja copy (legalisiran dan translated lebih bagus) atau scan-an.
  7. SIM internasional, kalau ada rencana beli atau sewa kendaraan disini.
  8. Bawa uang secukupnya untuk bertahan hidup minimal 2 minggu (jaga – jaga kalau stipend belum turun, ada masalah dengan buka rekening bank sini, atau kartu ATM nyasar). Untuk yang mau bawa keluarga ke Oz, siapkan hati dan pikiran, serta buku tabungan.. Yup, syarat untuk membawa keluarga ke Oz selama kuliah di luar negeri adalah adanya kewajiban untuk ikut asuransi kesehatan atau biasa disebut OSHC. Untuk upgrade OSHC dari individu (student) ke dual family (1 anggota keluarga, istri atau anak), biaya tambahannya sekitar 3.100 AUD untuk 20 bulan. Untuk Multi family, menurut para senior bisa lebih dari 10.000 AUD. Selain itu, yang bawa anak-anak usia sekolah, mereka wajib sekolah. Di beberapa negara bagian Oz, ada subsidi untuk PAUD dan sekolah negeri (bahkan bisa gratis), tapi walau gratis, biasanya tetap ada biaya daftar dan seragam (untuk seragam bisa pakai secondhand, dan hal ini umum di Oz, jadi nggak usah gengsi anaknya pakai baju bekas orang).

 

Begitu Sampai

  1. Beli SIM-card. Browsing terlebih dahulu provider yang punya paket sesuai kebutuhan kita. Di sini ada paket khusus student dan kontrak jangka panjang yang bisa kita ambil dengan harga lebih murah dibandingkan langganan bulanan.
  2. Beli Transport Card. Kalau di Brisbane namanya Go-card. Bisa dibeli di ticketing machine di halte besar, stasiun, atau toko kelontong. Kalau sudah ada kartu student ID, langsung daftar Concession karena harganya bisa setengah dari harga umumnya.
  3. Cari akomodasi yang permanen. Website seperti domain, realestate, ljhooker, gumtree, menyediakan informasi akomodasi yang bisa kita sewa sesuai kebutuhan. Tentunya kalau sharing akomodasi akan jauh lebih hemat daripada tinggal sendiri atau akomodasi yang berjenis studio.
  4. Atau daftar ulang. Pastikan mata kuliah yang kita ambil di semester 1 sesuai dengan study plan kita. Diskusi dengan school coordinator untuk lebih yakin course yang harus diambil dan bagaimana cara enrollnya.
  5. Buku teks. Di course profile akan ditulis buku teks yang wajib kita pakai (bila ada). Buku teks disini sangat mahal, bisa lebih dari 100 dolar untuk buku baru. Kalau bisa membeli buku yang bekas atau sharing dengan teman untuk membeli e-book lalu dibagi filenya.
  6. Putar-putar kota dan universitas. Ketahui kapan jam sibuk dan macet agar tidak telat saat kuliah dan ujian. Ketahui jadwal kendaraan umum. Di Brisbane ada web dan aplikasi dari provider kendaraan umum (Translink), dan kita bisa mengetahui jadwal dan rute yang harus diambil. Ketahui pasar terdekat, terutama yang mencari daging halal (di supermarket pun biasanya tersedia, tapi kalau mau lebih yakin bisa cari halal butcher terdekat), masjid (terutama bagi para lelaki, dan juga jadwal Jumatan). Di UQ yang kuliahnya moving class, tersedia aplikasi peta kampus yang memudahkan mencari ruang kuliah, seperti google maps.
  7. O-Week dan Market Day. Istilah di sini untuk menyebut hari orientasi kampus untuk mahasiswa baru. Tidak seperti di sebagian kampus Indonesia yang masih ada perploncoan, orientasi di sini diisi dengan pelatihan dari staf perpus dan IT, permainan, stand dari unit kemahaiswaan (dari himpunan fakultas, unit seni dan olahraga yang umum, komunitas pelajar dari berbagai negara, sampai hobi yang nggak jelas seperti Harry Potter / Pokemon Club), dan bagi-bagi goodie bag gratis (dari makanan, minuman, tas, kelengkapan sekolah, baju, dll).

 

Fyuu, panjang juga yaa. Lanjut lagi kapan – kapan deh.

Advertisements

I’m baaaack. Back to Australia,wkwkwk..

Tapi kali ini saya ke sini dalam rangka pendidikan Master (S2) di salah satu kampus Go8. Yes, akhirnya saya sekolah lagi, setelah bosan mendengar mantan bos yang selalu menanyakan kapan mau sekolah, akhirnya saya sekolah juga niiih. Lho, kok bisa? kapan daftarnya? Bukannya baru pulang STA dari Aussie? Okay, begini ceritanya.

Daftar Beasiswa

Jadi, sekitar minggu ke-2 April saya baru dapat kabar kalau ada pembukaan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Agak galau, apakah akan mulai mencoba daftar beasiswa dan sekolah mulai tahun 2016 itu atau tidak (banyak pertimbangan, dari mulai keluarga dan pekerjaan). Setelah diskusi dengan istri, akhirnya saya putuskan untuk mencoba mendaftar beasiswa. Toh ini juga baru pertama kali daftar, belum tentu langsung keterima juga, lumayanlah buat pengalaman daftar beasiswa, begitulah pikirku waktu itu.

Berhubung tenggat waktu tinggal 2 minggu-an, dan bulan April di kantor sedang hectic-hectic-nya, plus saya tanggal 29 April sudah harus berangkat lagi ke Adelaide. Jadilah semua dokumen persyaratan dan form yang harus diisi (online via oasis) dikebut untuk disubmit. Yang paling susah adalah meminta surat dari Biro SDM, karena waktu itu bosnya sibuk bener keluar kota, dan akhirnya suratnya baru keluar tanggal 30 April (saya minta di scan dan dikirimkan ke email). Alhasil, aplikasi beasiswa ini baru saya submit di hari terakhir, tanggal 30 April, detik pertama dapat wifi di Adelaide =D,hwhwhw..

AAS ini salah satu beasiswa yang paling lama udah ada di Indo (lebih dari 60 tahun!!). Dulunya bernama Colombo Plan. Australia Awards salah satu beasiswa dari pemerintah asing dengan jumlah penerima terbanyak (atau memang paling banyak). Biasanya, kuotanya lebih dari 300 orang per tahunnya, namun dengan adanya pemotongan anggaran pendidikan di Australia, jumlah ini berkurang (waktu saya daftar  tahun 2016, kuotanya 300 orang, 50% dari pemerintahan / universitas, 50% dari umum). Mantan Wapres kita, Pak Budiono, salah satu penerima beasiswa ini yang terkenal (selain saya pastinya,hohoho). Mereka juga sangat mendukung kesetaraan antara penerima laki dan perempuan akan diterima. Selain itu, mereka juga memberi kemudahan bagi penyandang disabilitas dan pelamar dari daerah tertentu (seperti Aceh, NTB, NTT, Papua, dan Papua Barat).

Selain beasiswa post-graduate, AAS juga memberikan berbagai short-course/workshop (short term awards). Jadi, rajin-rajin aja lyat websitenya, yaa.

Proses Seleksi

Pembukaan beasiswa hanya 1 tahun sekali. Umumnya dibuka awal Februari. Dan berakhir di akhir April. Hasil seleksi dokumen diumumkan sekitar bulan Juli, dan masuk ke dalam tahap shortlisting. Di tahap ini, kita diwajibkan untuk mengikuti tes IELTS (dibiayai AAS =9) dan wawancara. Tes IELTS ini nantinya akan mengukur kemampuan Bahasa Inggris kita dan berpengaruh berapa lama persiapan yang dibutuhkan sebelum kita berangkat ke Australia setelah diterima beasiswa AAS. Nilai minimal yang diterima kalau tidak salah adalah 5 atau 5.5.

Setelah 2-3 minggu, nilai IELTS bisa dilihat online. Dokumen IELTS asli langsung dikirim ke AAS. Alhamdulillah nilai saya waktu itu sudah tidak ada yang di bawah 6, walaupun hampir semua nilainya turun.

Writing : 6.5 –> 6.0
Listening : 8.5 –> 7.5
Reading : 9 –> 8
Speaking : 5.5 –> 6.5 (alhamdulillah, 4 bulan di Adelaide bisa memperbaiki nilai speaking)
Overall : 7.5 –> 7.0

Untuk tes wawancara, kita diwawancara dalam Bahasa Inggris oleh 2 orang interviewer untuk pendaftar master program dan 4 orang untuk pendaftar program S3. Pewawancara biasanya 50% laki-laki dan 50% perempuan, dan 50% adalah orang Indonesia dan 50% adalah orang Australia.

Jujur saja, tes wawancara saya (menurut saya pribadi) tidak berjalan dengan mulus. Apalagi untuk saya yang selalu demam panggung dan sulit berbicara dengan orang baru. Walau akhirnya alhamdulillah saya diterima.

Sedikit saran untuk tes wawancara ini. (1) Baca lagi jawaban kita dalam aplikasi beasiswa, tapi jangan dihapal karena wawancara bisa melebar ke diskusi yang tidak kita sangka. (2) Siapkan argument kenapa kita memilih program atau universitas yang kita incar, dan apa manfaatnya bagi Indonesia dan hubungan Indonesia – Australia. (3) Dan terakhir, jadilah diri sendiri dan presentasikan dirimu apa adanya. AAS tidak hanya mencari orang pintar, tetapi mencari orang yang mampu dan ingin berkontribusi bagi bangsa dan hubungan baik kedua negara.

Pengumuman akhir keluar di bulan September. Yup, tahapannya ‘cuma’ segitu aja.

Sudah keterima beasiswa AAS, lalu??

Seperti yang disebutkan sebelumnya, setelah diterima beasiswa AAS, awardee (penerima beasiswa) diwajibkan untuk ikut pre-departure training (PDT) di Jakarta atau di Bali. Lamanya PDT tergantung pada nilai IELTS yang kita dapat. Berhubung nilai IELTS saya sudah mencukupi untuk daftar ke program dan kampus di Australia, saya hanya ikut PDT selama 7 minggu. Selain 7 minggu, ada kelas 9 minggu, 3 bulan, 4,5 bulan, dan 6 bulan.

Dalam PDT ini kita mendapatkan materi persiapan IELTS (bagi yang nilainya belum mencukupi), academic preparation (persiapan menghadapi pola dan system perkuliahan di universitas di Australia, seperti menulis essay/report, membuat referensi, diskusi kelompok, presentasi, dan lainnya). Selain itu, kita juga mendapatkan pemahaman tentang budaya di Australia, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di sana dan berinteraksi dengan orang Australia dan siswa internasional lainnya. Juga info dan sharing session mengenai biaya hidup, iklim, persiapan sebelum berangkat (dokumen yang harus disiapkan, baju dan barang yang harus dibawa,dll), juga info bagi yang ingin membawa keluarga.

Kita juga mendapatkan kesempatan selama 1 hari untuk bertemu dengan perwakilan semua universitas di Australia dalam sesi Information Day. Di sini kita bisa mendengan info tentang universitas dan program yang kita incar langsung dari perwakilan universitasnya.

Oiya, selama kita PDT, kita diberi semacam ‘uang saku’, sangat bermanfat terutma bagi teman-teman yang harus resign dari kantornya untuk sekolah dan yang dari luar daerah PDT.

Setelah PDT-pun, awardee juga mendapat IAP di kampusnya masing-masing selama 5 minggu. Karena itu, biasanya awardee AAS berangkat lebih awal dari penerima beasiswa lainnya (awal Januari untuk Spring intake, dan awal Juni untuk Fall intake)

Kesan yang saya dapat selama PDT adalah beasiswa AAS ini benar-benar beasiswayang memberikan ‘karpet merah’ bagi awardee-nya. Officer di Indonesia ini sangat professional dan benar – benar membantu awardee dari sebelum berangkat, bahkan hingga sudah sampai di Australia. Bahkan di universitas – universitas di Australia, penerima beasiswa AAS juga memiliki semacam Liaison Officer khusus untuk mensupport awardee selama bekuliah di Australia. Salut..

Nb:

  1. Semua cerita di tahun 2016. Praktis efektif kerja di kantor Cuma 7-8 bulan saja. Karena 2 bulan full saya harus ke Adelaide untuk meyelesaikan STA. Begitu pulang, selesai Ramadhan pengumuman LTA AAS dan PDT 7 minggu. Plus dinas, cuti, dan persiapan berangkat sekolah lainnya =D
  2. Kebetulan di waktu yang bersamaan, ikut mendaftar beasiswa Pemerintah New Zealand (NZAS). Sedikit info, batas akhir pendaftaran sama dengan beasiswa AAS (akhir April setiap tahunnya), kuota memang lebih sedikit dari beasiswa AAS, proses seleksi hampir sama dengan beasiswa AAS (tapi bahasa Inggris / IELTS dilakukan belakangan dan untuk tes wawancaranya saya diwawancarai oleh 3 orang, perwakilan pemerintah NZ dan perwakilan di Indonesia). Berhubung pengumuman  beasiswa AAS lebih awal, saya pun akhirnya memilih AAS.

Sebelumnya cerita tentang serius-seriusnya waktu di Adelaide. Sekarang cerita jalan-jalannya di Adelaide dan sekitarnya (South Australia). Karena Work Hard, Play Harder…

  1. Adelaide CBD dan sekitarnya.

Beruntung karena mendapatkan tempat tinggal di daerah pusat kota atau CBD. Pergi kemana-mana hanya tinggal jalan kaki atau naik tram. Naik tram di sekitaran CBD gratis, lho. Transportasi umum di Adeladide memang termasuk yang paling murah di Australia, dan sistemnya sudah terintegrasi semua dari kereta, tram, dan bis. Cukup pakai satu kartu (Translink) bayarnya. Dan hanya bayar satu kali untuk 2 jam, selama 2 jam itu bebas naik kendaraan umum berapa kali pun dan jarak sejauh apapun.

Di dalam kota pun cukup banyak yang bisa dilyat. Sekadar jalan kaki di trotoar yang nyaman, melihat gedung-gedung gaya lama, atau duduk-duduk di taman sambil BBQ-an ala orang sini. Gratis semua pokoknya. Selain itu, ada beberapa tempat yang aku juga rekomendasiin di sekitaran CBD sini, di antaranya.

a. Central Market

Terletak di daerah China Town-nya Adelaide. Tempat belanja nomor satu. Dari mulai belanja groceries, coles, butcher halal, outback butcher (daging buaya, kangguru, yang aneh dan extreme pokoknya), toko asia, toko souvenir, kafe-kafe, resto asia, dan Asian street food. Lengkap deh.

b. Taman-taman dan Botanical Garden

Seperti yang disebutkan sebelumnya, taman disini bisa dipakai untuk BBQ atau sekadar duduk-duduk aja. Jangan lupa dibersihin lagi yaa kalau udah selesai BBQ. Biasanya di tengah kota bentuknya hanya taman (square), macam Light square atau Victoria Square (biasa jadi tempat event juga di sini). Di sekeliling CBD ada taman yang lebih luas (park/garden). Buat mahasiswa Adelaide Uni, biasa BBQ di taman (Angas Gardens) belakang Uni dekat sungai. Kalau Adelaide Botanical Garden, letaknya juga masih dekat pusat kota, dekat Adelaide Uni. Luasnya sampai 50 hektar! Bisa cek webnya di sini.

c. Adelaide Oval

Stadionnya Adelaide. Tempat penyelenggaraan pertandingan olahraga macam rugby, footie (Australia football, unik dan menarik), sepak bola (soccer), cricket, sampai konser juga digelar disini. Saya rekomendasikan unutk mencoba menonton footie paling tidak sekali disini. Selain itu, lingkungan di sekitaran stadion juga sangat apik ditata.

d. Zoo, Museum, and gallery

Informasi tentang zoo bisa dilihat di sini. Untuk museum dan galeri biasanya gratis (enaknyaa,hehe). Kalau capek nugas atau belajar bisa sesekali kabur kesini, hehe. Yang direkomendasikan ada South Australian Museum, Art Gallery of South Australia, Tandanya – National Aboriginal Cultural dan Migration Museum. Untuk Migration Museum cukup sering eksibisinya berganti, jadi sering-sering dicek aja.

e. Rundle Mall

Mallnya Adelaide CBD. Tidak seperti mall di Indonesia yang biasanya bangunan bertingkat dan tertutup. Rundle Mall ini lebih seperti jejeran toko-toko di satu jalan. Dan banyak kursi disediakan di sini, tidak seperti mall di Indonesia (yang harus masuk toko, food court atau resto cuma buat duduk), untuk sekedar menikmati jajanan atau mendengarkan musik dari artis jalanan.

f. Lainnya

Ada yang unik di Adelaide, yaitu jalur khusus bernama O-bahn. Jalurnya seperti gabungan antara busway dan tram. Walau jalannya sempit dan tidak sepenuhnya lurus, tapi bisnya bisa ngebut sampai 100 km/jam di sini. Rahasianya, ada di bisnya, dimana dipasang semacam guide-wheel, sehingga bis dapat berjalan mulus di treknya (bayangkan roda – roda di pinggiran body Tamiya).

Sedikit pesan sponsor, kalau lapar dan kangen makanan Indonesia bisa ke resto Pondok Daun di daerah Currie St. Dengan harga standar tapi porsinya bisa 2x makan untuk ukuran orang Indonesia, hehe. Ownernya, mas Sigit, juga ramah banget.

  1. Henley Beach dan Glenelg Beach

Dua pantai terdekat dari pusat kota Adelaide. Untuk ke Henley Beach bisa naik bus, sedangkan Glenelg Beach bisa ditempuh menggunakan trem. Untuk yang suka olahraga sepeda, bisa juga lho.

  1. Mt. Lofty Botanic Garden

Botanic Garden yang luas dan rapih. Ada walking trailnya juga dan bisa dipakai untuk piknik. Bisa ditempuh menggunakan bus kota.

  1. Cleland dan Urimbira

Tidak jauh dari Mt. Lofty, ada Cleland Conservation Park. Kalau mau lihat dan foto bareng Koala atau kasih makan kangguru, disini tempatnya. Binatang khas Australia lain juga ada di sini, dan kebanyakan mereka dibiarkan lepas. PIlihan lainnya untuk melihat hewan khas Australia ada di Urimbira Wildlife Park. Tempatnya memang tidak besar dan kebanyakan hewannya dikandangi.

  1. Hahndorf

Hahndorf ini kampong Jerman-nya di South Australia. Bendera – bendera Jerman di jalan dan souvenir disini khas Jerman. Sosis Jerman dan bir juga banyak disediakan di café.

  1. Victor Harbor

Victor Harbor terkenal dengan Granite Island-nya. Di pulau ini, selain pemandangannya keren banget, juga ada penguin tour-nya, karena di beberapa waktu, pulau ini sering disinggahi pinguin. Sayangnya waktu saya ke sana, nggak ada satu pun pinguin yang ditemui. Untuk ke pulau ini dari Victor Harbor, ada jembatan yang menghubungkannya. Kita bisa jalan kaki untuk menyeberang, atau naik kereta yang ditarik kuda (semacam delman, tapi versi bule). Ukuran kudanya luar biasa, lho.

  1. Kangaroo Island

Terakhir, Kangaroo Island. Dari CBD bisa naik bis hingga Cape Jarvis, dan dilanjutkan naik kapal ferry. Di Kangaroo Island, sesuai namanya, pastinya ada kangguru (yaiyalah..), yang dibiarin lepas, yang kadang oleh masyarakat lokal malah sering dianggap hama. Jangan lupa mampir ke Seal Bay, untuk melihat anjing laut dan singa laut yang lagi leyeh-leyeh. Ada juga Flinders Chase National Park buat melihat Remarkable Rocks, yang well (not really that) remarkable.

Finally, thanks to Australia Awards Indonesia and DFAT (Govt of Australia) for the sweet unforgettable experience. This is the end of my journey is Down Under, or is it?? =]

Kehidupan bagaikan sebuah puzzle.
Merupakan kumpulan dari kepingan-kepingan puzzle.
Kenangan dan setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita adalah kepingan tersebut.
Bermula dari kekosongan dan tanpa bentuk.
Kepingan itu akan menyatu dan saling melengkapi,
memperlihatkan gambar yang kita inginkan pada akhirnya.

Kehidupan bagaikan sebuah puzzle.
Dan kita merupakan kepingan puzzle bagi orang lain.
Seberapa pun kecil perannya kita.
Kita adalah kepingan puzzle yang akan melengkapi puzzle orang lain.
Setiap kepingan adalah unik dan berbeda.
Memiliki peran dan posisinya masing-masing.
Tapi tanpa satu kepingan, puzzle itu tidak akan lengkap.

4 tahun kerja belum juga ngambil S2. Bukannya saya yang malas cari sekolah dan beasiswa, tapi memang berbagai pertimbangan pribadi yang menunda untuk segera mengambil sekolah. Alhamdulillah kantor selalu mendukung bahkan kalau ada tawaran training atau pelatihan – pelatihan. Termasuk waktu ditawari short term award dari DFAT (Department of Foreign Affair and Trade) Pemerintah Australia untuk pelatihan sekaligus gelar graduate certificate di bidang data science / big data terkait penyusunan kebijakan publik. Berhubung di kantor selalu jadi ‘The IT Guy’, yang bergelar tidak resmi, seperti MPP (Master of Power Point) dan ME (Master of Excel). Berhubung saya toh belum sekolah S2, mulai suntuk dengan pekerjaan kantor yang masalahnya itu-itu saja tanpa ada perbaikan berarti, dan tes IELTS yang dibayari oleh Australia Awards Indonesia (AAI), akhirnya saya pun coba daftar, siapa tau lolos.

Oiya, sedikit info buat yang belum familiar dengan Graduate Certificate. Untuk pendidikan di Australia dan New Zealand, mereka membagi jenjang pendidikan post graduate menjadi 4 (sumber: www.studyinaustralia.gov.au ), yaitu

(1) Graduate Certificate = program selama 6 bulan yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1) untuk memperluas keterampilan yang telah dimiliki dari jenjang sarjana atau mengembangkan pengetahuan di bidang baru.

(2) Graduate Diploma =  program selama 1 tahun yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1). Di Graduate Diploma akan menerapkan pokok pengetahuan dalam serangkaian konteks agar dapat melakukan pekerjaan profesional atau yang bersyarat keterampilan tinggi dan sebagai jalur untuk pendidikan lebih lanjut.

(3) Master = program selama 1 – 2 tahun yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1). Pendidikan Master meliputi riset independen (Master by Research), perkuliahan tradisional (Master by Coursework), atau kombinasi keduanya (Master by Coursework with Minor Thesis).

(4) Doktor = program selama (umumnya) 3 tahun yang dapat diambil setelah lulus Master (S2). Pendidikan Doktor di Australia berdasarkan program riset, walaupun di tahun pertama terkadang diwajibkan untuk mngikuti perkuliahan beberapa mata kuliah.

Sebagai tambahan, kredit (atau SKS) yang sudah diambil di Graduate Certificate dan Graduate Diploma bisa digunakan saat mendaftar program Master di prodi yang sama, sehingga tidak perlu mengulang mata kuliah yang pernah diambil saat Graduate Certificate atau Graduate Diploma. Keuntungannya, yaitu bisa lulus lebih cepat (1-1,5 tahun) atau bisa diganti untuk mengambil mata kuliah pilihan (elective) yang lain.

Adelaide Sky

Singkat cerita, saya dan 24 orang lain terpilih short term award (STA) ini. Proses tesnya singkat, hanya IELTS dan wawancara. Alhamdulillah nilai IELTS nya ada peningkatan dari tahun 2010 lalu, walaupun sejak di kerja di kantor ini tidak banyak berlatih Bahasa inggris.

Writing : 6.5 –> 6.5

Listening : 7.5 –> 8.5

Reading : 8 –> 9

Speaking : 5.5 –> 5.5 (masih yaaa, speaking nyaaa)

Overall : 7 –> 7.5

DSC_1422

Oktober 2015, akhirnya berangkat juga ke Adelaide. Pertama kalinya long distance marriage sama istri. Alhamdulillah, program Gradcert yang biasanya 6 bulan dibuat intensif jadi hanya 4 bulan (2 bulan, kembali ke Indonesia untuk mencari data selama 4 bulan, dan lanjut 2 bulan lagi di Australia. Kuliahnya sendiri di University of South Australia (UNISA) di Adelaide. UNISA memang bukan “Group of 8” nya universitas di Australia, tapi tergabung di kelompok Australian Technology Network (ATN), dimana mereka memang mempunyai background yang kuat sebagai institute teknologi sebelum menjadi universitas dan fokus pada kolaborasi dengan dunia industri dan riset.

2 bulan pertama, kami dibekali dasar – dasar ilmu data science, seperti big data, data warehouse, statistic for data science, dan business intelligence. Belajar juga program – program yang ga pernah kepikiran untuk belajar hal itu sebelumnya, macam Python, Weka, SQL, SAS, R, Prezi, Tableau dan SPSS (kalau yang ini sih belajar sendiri). Setelah itu, kami kembali ke Indonesia selama 4 bulan. Selama di Indonesia, kami mengikuti seri workshop yang diadakan dan melihat bagaimana implementasi dari penggunaan data science dalam perumusan kebijakan publik. Setelah itu, 2 bulan berikutnya (April – Juni 2016), kami kembali ke Adelaide dan menyusun project dari yang telah kami pelajari. Selain itu, selama 2 bulan ini, kami juga belajar dari para praktisi dan professional di Australia bagaimana mereka menyusun kebijakan publik dan bagaimana mengaplikasikan data science dan analisa data kuantitatif untuk menyusun kebijakan tersebut.

Buat yang penasaran hubungan antara data science dengan kebijakan publik, bisa cek-cek ke webnya pulselab Indonesia. Selain itu, data science dan big data ini salah satu skill dan profesi yang lagi hitz banget sekarang dan masa depan (yang masih bingung mau ambil jurusan apa, coba cek-cek webnya world economic forum).

Long Life Learning

Merasa bersyukur kerja di tempat yang mengajak para pegawainya untuk tidak pernah berhenti belajar hal baru. Saya selalu ingat sat pertama kali dites wawancara waktu melamar kerja disini dan ditanya juga oleh bigbos dalam satu kesempatan setelahnya, kenapa saya mau kerja disini. Waktu itu saya menjawab, saya mau belajar dan belajar. Belajar tidak harus dikonotasikan dengan sekolah atau mendapatkan gelar, tapi belajar hal – hal baru, belajar ilmu kehidupan, entah itu di institusi pendidikan, atau sekadar dari orang yang lebih ahli dan paham.

Nb:

Mencoba perkuliahan ala Ausralia, siapa tau nanti ambil S2 nya disini =P,eh….