Skip navigation

Nggak berasa udah 5 tahun berlalu sejak aku dan senior di kantor nonton konser L’arc~en~ciel. L’arc~en~ciel atau yang biasa dibaca laruku.  Pertama kali denger dari MTv waktu nayangin videoklip Stay Away, hampir 16 tahun lalu. Sejak saat itu, langsung jatuh cinta denger lagunya, gaya musiknya, yang unik untuk jenis lagu yang banyak berkumandang di Indonesia masa itu. Dan Mei 2012, mereka (akhirnya) ngadain konser di Indonesia.

Yup, waktu itu konser digelar di Lapangan D Senayan, outdoor, didukung dengan big screen dengan. Walaupun udah ga semuda dulu waktu masa jayanya, tapi totalitas dan penghayatan mereka dalam konser dunia memperingati 20 tahun Laruku tetap berbekas di ingatan dan hati. Mainin lagu yang pertama kali ku denger (Stay Away), paling aku suka (The 4th Avenue Cafe), dan koor massal waktu My Heart Draws A Dream dan Anata didukung dengan alam yang menitikkan gerimis ringan. LUAR BIASA!!!

Setlist konser waktu itu: (1) Ibara no Namida ; (2) CHASE; (3) Good Luck My Way; (4) Honey; (5) Drink It Down; (6) Revelation; (7) Hitomi no Jyunin (8) XXX  (English version); (9) Fate; (10) Forbidden Lover; (11) My Heart Draws a Dream; (12) Seventh Heaven; (13) Driver’s High; (14) Stay Away; (15) Ready Steady Go!; (16) Anata.

Plus Encore 3 lagu : (1) The Fourth Avenue Cafe; (2) Link; (3) Niji

Menurut aku, ini tetap konser paling berkesan. Mungkin karena ini band favorit. Mungkin juga karena fansnya yang luar biasa, sampai – sampai kita benar – benar berasa jadi satu. Mungkin ini juga yang bikin babang Ken sampai menghayati sekali mainnya, dan babang Hyde enjoy nyanyinya. Dan masih banyak mungkin – mungkin lainnya..

Ku tunggu janjimu, Mr.Hyde untuk kembali konser di Indonesia bersama L’arc~en~ciel =’]

Fun Fact : sepanjang konser nyanyi semua lagunya Laruku, goyang, dan loncat – loncat, pas pulang sambil nyari taxi dari Senayan jalan ke bunderan senayan, begitu naik taxi kakinya langsung kram, haha..

Bukan, bukan. 5K yang dimaksud bukan yang suka dipajang di sekolah – sekolah atau biasa tertulis Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Keamanan,dan Kekeluargaan. Tapi yang dimaksud di sini adalah ‘Ke Korsel Ku Kan Kembali’. Yup, alhamdulillah dapat juga kesampean ke negeri sana yang jaman sekolah dulu cuma tahu karena Piala Dunia 2002 dan Ahn Jung Hwan-nya, film Taegukgi, dan film Jang Geum (okay, yg terakhir ini saya dipaksa nonton marathon oleh sang ibu berhubung waktu itu saya lagi bedrest di rumah karena tifus).

Sedikit perkenalan dengan Kokorean (okay, kalau berikutnya saya bilang Korea maksudnya Korsel yaa). Menjelang akhir kuliah, baru tahu kalau K-wave mewabah dengan maraknya drama-drama korea yang mulai mengalahkan drama Jepang dan lagu-lagu dari para boyband dan girlbandnya. Nggak minat untuk ikut-ikutan nyoba nonton atau ngedengerin lagu korea, sampai saya dikenalin sama yang namanya Running Man dan suka sama ini acara. Dari situ muncul ketertarikan untuk pergi ke Seoul, walau jaman dulu yang sibuk dijual adalah tour ke tempat shooting drama Korea dan ngunjungin agensi boyband/girlband, saya sih lebih penasaran dengan makanan dan jajanan Korea.

Rezeki itu nggak kemana..

Yang namanya rezeki itu nggak akan kemana dan nggak bakal ketuker. Walau agak sebel sejak mulai kerja dikira orang Cina, Jepang, atau Korea. Apalagi di kantor selalu disuruh datang rapat kalau yang ngundang dari JICA (katanya senior di kantor, ini kamu aja yang dateng, udah cocok banget). Tiba-tiba dapat sms untuk ikut seminar seminggu di Seoul. Agak deg-degan karena in berarti saya pertama kali dinas ke luar negeri sendiri. Setelah diskusi dan sedikit dorongan, saya pun bersedia.

Dengan waktu yang mepet diurus lah semua. Awalnya yang sudah niat mau pakai paspor biasa dan urus visa sendiri, tapi malah disarankan pakai paspor dinas agar tidak perlu bayar visa. Karena belum punya paspor dinas, maka diuruslah itu paspor dengan sisa waktu kurang dari 2 minggu. H-5 hari makin deg-degan karena belum selesai juga itu paspor. Jadwal keberangkatan yang hari Minggu, berarti hanya punya waktu 3 hari kerja lagi, makin deg-degan karena bisa jadi harus membatalkan keikutsertaan ke panitia secara mendadak (padahal hotel dan tiket sudah dibooking panitia). Jumat siang, dapat sms kalau paspor sudah jadi, dan diserahkan sore (kenyataannya baru jam 7 malam dapat paspornya). Lega rasanya.

Off we go..

Hari Minggu berangkat naik Korean Air yang kerja sama dengan Garuda Indonesia. Jumlah penumpang 19 orang. Iya, 19 orang aja di pesawat jet segede gaban itu. Sampai petugas check in-nya bilang, “saya kasih tempat duduk di row ini sesuai aturan kalau pesawatnya minim penumpang. Setelah itu, bebas kalau mau pindah tempat duduk, selonjoran di kursi atau di lorong pesawat sekalian”. Okelah kalau begitu. Dan kenyataan memang ini pesawat lowong banget. Sampai pramugarinya kurang kerjaan, sedikit-sedikit nawarin makan atau minum (ramen gratis sodara-sodara,haha)

Acara seminar dilangsungkan di Hotel Grand Ambassador. Dari Bandara Incheon sesuai arahan dari panitia langsung menuju tempat bus limo bandara ke arah kota yang berhenti di setiap hotel-hotel utama di Kota Seoul, termasuk Hotel Grand Ambassador. Jadi transport nggak susah. Plus, hotel pun menyediakan shuttle ke tempat – tempat wisata utama dalam Kota Seoul (City hall, MyeongDong, Dongdaemun, Gangnam, Insadong,dll).

Fokus Dulu..

Okay, fokus dulu sama kerjaan. Jadi disini ini dalam rangka seminar mengenai Evaluating the Impact of Development Programs. Diselenggarakan bersama oleh Korea Development Institute (KDI) dan World Bank. KDI sendiri salah satu lembaga pendidikan dan juga think tank untuk kebijakan public di Korsel. Materi yang diajarkan dan disampaikan menurut saya luar biasa bermanfaat, terutama teknik dan metode evaluasi dampaknya. Selain itu, kesempatan juga untuk menambah networking dengan praktisi dari seluruh dunia, peneliti dan mahasiswa KDI. Selain itu, kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya negara lain (selalu amaze dengan reaksi mereka yang kaget soal umur saya dan saya sudah menikah di usia yang menurut mereka sangat muda).

Di awal seminar, Rektor KDI selaku ketua panitia sudah menyampaikan kurang lebih, ”selamat membelanjakan uang kalian di Seoul”, sambil menunjukkan tempat-tempat wisata di sekitar hotel dan di dalam kota Seoul. Peserta pun diberikan satu hari bebas untuk menikmati kota di akhir acara. Mungkin bisa dicontoh oleh panitia-panitia acara di Indonesia agar memperkenalkan objek wisata di sekitar kota tempat diadakan evet-event Internasional sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Setelah mempresentasikan hasil studi evaluasi dampak dari salah satu program beasiswa di Indonesia di hari terakhir seminar, saatnya jalan – jalan.

Plesiran..

Sudah banyak banget info tentang Seoul di web dan blog yang beredar di internet. Jadi saya share gambar aja.

Trivia:

Padahal tahun itu, saya dan istri sudah berencana wisata ke Seoul, apa daya ternyata saya berkesempatan seminar seminggu dibayari sponsor. Istri pun berangkat ke sana dibiayai kantor 3 minggu kemudian. Walau jadinya jalan sendiri-sendiri, masih tetap niat untuk beneran jalan-jalan bareng ke Seoul, yaa, hehe

Berhubung sedang ada di negeri orang, selalu ingat pengalaman dinas ke luar negeri pertama kali tahun 2013 lalu. Yup, negara pertama yang dikunjungi nggak main-main, langsung negara di ujung barat laut benua Afrika, Maroko.

Sekilas tentang Maroko

Maroko sering disebut juga Al-Maghribi dalam bahasa Arab, karena letaknya yang ada di bagian Barat. Penduduk aslinya suku Berber (bukan barbar yaa, apalagi pubpub *garing mode). Bahasa yang diapakai sehari-hari Bahasa Arab dan Prancis. Sialnya saya yang sudah pede pergi dinas dengan modal bahasa Inggris akhirnya nggak banyak kontribusi dsc_0234karena ternyata mereka diskusi pakai bahasa Arab -_-”. Ibukotanya Rabat, sementara kota besar lainnya ada Casablanca, Marrakesh, dan Tangier.

Oiya, pergi ke Maroko ini bebas visa, lho. Konon sejarahnya (entah betul atau nggak, saya juga tahu dari cerita orang sana), karena hubungan baik antardua negara, Pemerintah Maroko waktu jamannya Presiden Soekarno menawarkan bantuan apa yang bisa diberikan oleh Maroko kepada Indonesia. Dan Presiden Soekarno waktu itu meminta agar dibebaskan visa untuk warga negara Indonesia yang akan berkunjung ke Maroko. Saking akrabnya kedua negara, bahkan ada jalan di Rabat yang diberi nama Jalan Soekarno dalam bahasa Prancis (Rue Soekarno).

Makanan dan Minuman

Makanan lokal yang khas dari Maroko bermacam – macam. Dari mulai Couscous, yang seperti pasta dengan tekstur seperti pasir. Bagi masyarakat Maroko, makanan ini sangat spesial dan mungkin hanya dihidangkan seminggu sekali. Selain itu, ada tagine/tajine yang dimasak dan dihidangkan dalam panci/mangkok tanah liat. Saya icip chicken and potato tagine dan beef and plum tagine, unik juga rasanya.

Untuk minuman, ada Atay atau teh dengan daun mint yang melimpah. Sangat nikmat disajikan panas untuk mengusir dinginnya udara Maroko (waktu kesana bulan Oktober). Penyajiannya pun unik karena teh dituang dari teko yang posisinya harus jauh di atas gelas tehnya.

Objek Wisata

Menurut saya, Maroko banyak menyimpan spot – spot wisata berupa bangunan tua bersejarah, masjid, pasar tradisional dan sudut-sudut kota yang unik. Berhubung waktu itu hanya sempat berkunjung ke Rabat, berikut beberapa daftar objek wisata yang bisa dikunjungi:

  1. Untuk bangunan dan lokasi bersejarah bisa mengunjungi Benteng Chellah dan Kasbah Udaya di Rabat. Kita juga bisa jalan di sekitar lokasinya melihat rumah – rumah unik seperti di film-film sambil menikmati pemandangan Sungai Bou Regreg.

2. Selain itu, ada juga Menara Hassan sebagai bagian dari rencana masjid terbesar di dunia, namun terhenti pembangunannya seiring meninggalnya raja. Di kompleks ini juga ada makam raja Mohammed V yang mewah. Disebut mewah karena di dalamnya dihias oleh emas dan ukiran – ukiran Maroko yang terkenal. Selain itu, makam ini juga tidak hentinya dikumandangkan alunan ayat Al Qur-an (ada orangnya langsung lho yang baca Qur’an, bukan dari kaset/CD/MP3).

3. Pasar Medina buat yang suka belanja. Dari mulai souvenir khas, baju bekas, hingga makanan pun ada. Harus berhati-hati terhadap copet yang mungkin mengintai. Selain itu, bentuk pasar yang seperti labirin dan cukup padat membuat orang harus waspada. Dan jangan lupa untuk menawar harga disini supaya dapat harga lebih murah.

Info tambahan. Dari Maroko, kita bisa menyebrang menuju Gibraltar dan melanjutkan penyeberangan ke Spanyol, lho.

Trivia

Salut juga dengan sistem pendidikan di Maroko. Pemerintah fokus membuka sekolah di wilayah – wilayah perbatasan dan gurunya digaji tinggi – tinggi. Sementara untuk di kota, pihak swasta dibiarkan berkembang. Sehingga ada pembagian peran dan pendanaan yang jelas, serta pemihakan pemerintah Maroko kepada rakyatnya.

Dengan sudah dikunjunginya Maroko, berarti sudah 5 benua besar yang sudah dikunjungi (yeay). Apa itu berarti cita – cita keliling dunia sudah selesai? Yaa, belum donk. Masih banyak negara yang ingin dikunjungi, terutama kalau perginya bareng sii istri, hehe. Yaa, insya Allah kalau memang sudah rezeki.

Great power comes with great responsibilities – Uncle Ben (Spider Man)

Yup, kata – kata paling terkenal dari Paman Ben, paman dari Peter Parker yang mengubah perilaku Peter untuk mulai memerangi kejahatan. Kenapa ‘Power’ yang besar juga memiliki tanggung jawab yang besar bersamanya?? Dan ‘Power’ apa yang dimaksud?? Mari kita telaah dan maknai bersama.

Kekuatan dan kemampuan fisik. ‘Power’ secara harfiah adalah kekuatan fisik atau brute force. Sama seperti Peter Parker yang memiliki kemampuan melebihi manusia biasa, dia ‘diminta’ pamannya untuk membantu orang yang membutuhkan. Atau Bruce Wayne yang harus melindungi kota Gotham dari ancaman League of Shadow dan juga KKN yang merajalela di pengadilan dan kepolisian Kota Gotham. Atau Lionel Messi yang kemampuan sepak bolanya di atas rata-rata dan selalu diharapkan menjadi tulang punggung Barcelona. Bentuk ‘power’ paling primitif, karena siapa yang kuat biasanya dipilih menjadi pemimpin, dan pemimpin bertanggung jawab terhadap anak buahnya. Kekuatan seharusnya ada untuk membantu dan melindungi, melengkapi orang yang lemah, dan bukan justru malah menindas mereka.

Kekuasaan dan kewenangan. Bentuk ‘power’ di jaman modern. Kekuasaan dan kewenangan bisa sangat berbahaya di tangan yang salah, karena dampaknya dapat menjadi sangat luas dan masif. KKN merupakan salah satu contoh bentuk penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Kekuasaan adalah amanah dan tanggung jawab, dan apapun bentuk kekuasaan itu, mereka biasanya disumpah saat pertama mendapatkan amanah itu. Sumpah Presiden, Sumpah Dokter dan sumpah profesi lainnya, bahkan sampai Sumpah Pemimpin Geng pun ada.

Umur dan Senioritas. Budaya timur sangat menghormati orang yang lebih tua atau senior daripada kita. Dan yang lebih tua dan senior bisa lebih berkuasa karena mereka lahir lebih awal atau masuk lebih awal dari juniornya. Bisa suruh-suruh ini itu. Walau sekarang sih mungkin bukan jamannya lagi hormat buta kepada senior. Jangan sampai terulang kasus – kasus mahasiswa yang meninggal oleh kelakuan para seniornya, atau senioritas di kantor yang bisa menghambat karir atau rejeki orang lain.

Informasi. Yes, information is power. Kata – kata yang aku inget abis nonton The Pirates of Silicon Valley. Memiliki informasi paling cepat, paling akurat, tentu menjadi nilai plus seseorang seperti seorang jenderal perang, broker saham, entrepreneur, bahkan sampai seorang PKL liar harus tahu kapan razia Satpol PP biar ga digrebek. Informasi bisa menjerumuskan orang lain, misalnya PKL tadi yang tahu waktu razia Satpol PP, tapi tidak memberitahu teman-temannya supaya temannya digrebek sehingga dia tidak punya saingan lagi. Atau bos pemilik media tv yang bisa menyetir dan mengendalikan persepsi masyarakat. DI dunia yang overload informasi seperti saat ini, sangat penting untuk mawas diri terhadap segala informasi yang masuk, dan juga mawas diri saat memberikan informasi ke pihak lain.

Kecerdasan dan pengalaman. Orang cerdas bisa mencari nafkah dengan mudah, (kadang) mencari jodoh dengan mudah. Mereka memiliki kesempatan untuk memilih pekerjaan yang diinginkan dan (kadang) calon pasangan yang diinginkan. Hehe, kalau soal jodoh masih belum pasti karena ada masalah selera juga, tapi kalau lihat track record anak ITB yang ‘menantu idaman mertua’, masih bisa berlaku juga teori ini. Orang yang cerdas dan memiliki pengalaman lebih dapat berkuasa untuk menentukan ke arah mana hidupnya ingin dibawa dan tidak terbawa arus kehidupan begitu saja. Selain itu, orang cerdas juga harus paham, bahwa mereka punya tanggung jawab untuk mengajari dan mengajak orang lain ke arah lebih baik, bukan malah mengajari yang salah atau membuat bodoh orang lain. Orang cerdas paham akan pentingnya kebersihan, paham akan pentingnya kesehatan, sehingga mereka bisa memberi solusi terhadap masalah banjir dan penyakit. Orang sipil paham butuh material seperti apa untuk membuat jembatan yang kuat dan jenih tanah apa yang bisa digunakan untuk dibangun gedung di atas tanah tersebut, sehingga tidak akan ada korban di kemudian hari. Sama halnya dengan orang yang berpengalaman, yang pada akhirnya menjadi orang yang bijak, yang menjadi panutan orang lebih hijau dari dirinya.

Knowledge is Power, but Character is More

Satu lagi, quote atau lebih tepatnya moto jaman SMA. Sampai sekarang moto ini masih terngiang, dan mungkin jadi salah satu prinsip dalam bertindak. Jadi, apapun ‘Power’ yang kita punya (entah itu pengetahuan, informasi, kekuatan) tetap ‘karakter’ atau sifat & sikap seseorang yang lebih utama dan menentukan apakah ’power’ yang dimilikinya akan digunakan untuk hal yang benar atau tidak.

Dan apabila kita diberi amanah ‘power’, maka sebisa mungkin kita harus bermanfaat bagi orang banyak dan yang membutuhkan.

knowldege-is-power

20 September 2012. Itu tanggal terakhir aku nulis blog. Kurang lebihnya, 4 tahun dan 4 bulan. Udah lama yaa hiatus (aka malas) – nya, hehe. 4 tahun 4 bulan itu kemana aja yaa:

1. Nikah

Yeay, Januari 2013 akhirnya punya pasangan hidup. Alhamdulillah. Siapa lagi orangnya kalau bukan sii cimit itu. Setelah hampir 4 tahun pacaran, akhirnya sepakat untuk ke tingkat selanjutnya hidup ini. Berkeluarga. Persiapan nikah yang benar – benar dinikmati saja, akhirnya terbayar sesuai keinginan. Keluarga dan kerabat hadir. Bahkan sampai sii big boss hadir (padahal doi hampir ga pernah dateng ke nikahan staf – stafnya yang lain).

2. Mulai coba tinggal sendiri

Setelah lebih dari setahun tinggal bersama mertua. Akhirnya mencoba untuk tinggal sendiri. Walaupun tempatnya tidak seberapa dan banyak membuat stress, alhamdulillah masih cukup layak ditinggali berdua. Dan sekarang, berusaha mencari hunian permanen yang sesungguhnya. Yang benar – benar dapat mewujudkan impian kami berdua. Walau lokasinya jauh dari tempat kerja, Insya Allah berkah.

3. Dinas luar negeri pertama, kedua, dan seterusnya

Tahun 2013, akhirnya diberi amanah untuk dinas ke luar negeri pertama kalinya. Dan negara pertama yang didatangi adalah MAROKO. haha, super random. Udah siap – siap ngomong cas cis cus bahasa inggris, eh orangnya ga ada yang bisa bahasa inggris, hanya bahasa arab atau bahasa prancis. Jadilah disana ngikut rombongan aja.

Dinas berikutnya, Korea Selatan. Setelah aku dan istri jadi keranjingan korea gegara nonton Running Man, selalu pengen pergi kesini. Kami pun akhirnya berangkat di bulan Mei 2014, tapi nggak barengan. Saya berangkat dari kantor awal Mei, sementara istri juga berangkat dari kantor akhir Mei. Jadilah kami menikmati Seoul sendiri – sendiri. Dan masih bercita – cita ke sini lagi bareng – bareng.

Terakhir, Adelaide – Australia. Kalau yang lain hanya seminggu, yang ini sampai 4 bulan -_-“. Sambil belajar Big Data yang nggak tau juga ilmunya bakal guna atau nggak di kantor. Merasakan puasa di negeri orang dan lagi – lagi harus ulang tahun sendirian.

4. Ganti divisi dan bos

Dua kali ganti divisi dan 2 kali ganti bos. Walau yang terakhir hanya merasakan 2 bulan. semoga di bawah kepemimpinan sii bos baru ini makin kompak dan jaya divisinya. Super big boss nya juga tiap tahun ganti pula, ini juga katana udah keterima di ‘lembaga internesyenel’ gitu. Yah, demokrasi jaman sekarang kok makin kebablasan, semuanya punya agenda sendiri – sendiri.

5. Menanti sii buah hati dan kehilangan keluarga

Huff, 4 tahun dan belum dikasih rezeki untuk punya momongan. Semoga penantian dan segala upaya ini akan indah pada waktunya. Hanya bisa selalu berdoa, bersabar, dan berusaha. Bahkan di tahun 2016 kemarin, dapat kabar duka dengan kehilangan 2 anggota keluarga. Umur memang nggak ada yang bisa menebak. Sebagai yang masih hidup, hanya bisa tabah, mendoakan, dan memetik pelajaran dari proses ini.

6. Sekolah S2

Setelah 6 tahun kerja, akhirnya bisa lanjut sekolah juga. Bukan karena urut kacang, sampai ketunda lama gini, tapi memang pilihan pribadi dan keluarga yang mengharuskan menunda urusan ini. Walaupun terkadang merasa iri melihat kawan-kawan seangkatan yang sudah jauh posisinya di atas dan sudah pada tuntas sekolah masternya, tapi semuanya pasti udah diatur juga sama Allah. Yakin ini yang terbaik. Buktinya, diberi kemudahan luar biasa untuk dapat beasiswa dan proses sekolahnya. Bahkan kalau ketemu mantan boss yang tiap ketemu selalu nanya “Kamu masih disini aja, kapan sekolah?”, sekarang udah bisa bilang (walau dalam hati) “Iyee, ini gw sekarang mau kuliah, puas?puas?”

 

Beneran nggak berasa udah 4 tahun. Manis, getir, pahit, asin, asam kehidupan. Masih merasa jauh dari manusia yang benar dan bermanfaat bagi sesama. Selalu ingat perkataan almarhum eyang kakung yang selalu berpesan kepada cucunya : “Kalian harus bisa melebihi orang tua kalian, harus lebih baik. Dan jadi orang yang berguna bagi orang lain dan negara”. Pesan yg sangat berat buat saya kalau melihat si bapak yang sudah bergelar guru besar aka profesor di salah satu kampus terbaik dan pernah menjadi direktur di perusahaan ternama di Indonesia.