Skip navigation

Bukan, bukan. 5K yang dimaksud bukan yang suka dipajang di sekolah – sekolah atau biasa tertulis Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Keamanan,dan Kekeluargaan. Tapi yang dimaksud di sini adalah ‘Ke Korsel Ku Kan Kembali’. Yup, alhamdulillah dapat juga kesampean ke negeri sana yang jaman sekolah dulu cuma tahu karena Piala Dunia 2002 dan Ahn Jung Hwan-nya, film Taegukgi, dan film Jang Geum (okay, yg terakhir ini saya dipaksa nonton marathon oleh sang ibu berhubung waktu itu saya lagi bedrest di rumah karena tifus).

Sedikit perkenalan dengan Kokorean (okay, kalau berikutnya saya bilang Korea maksudnya Korsel yaa). Menjelang akhir kuliah, baru tahu kalau K-wave mewabah dengan maraknya drama-drama korea yang mulai mengalahkan drama Jepang dan lagu-lagu dari para boyband dan girlbandnya. Nggak minat untuk ikut-ikutan nyoba nonton atau ngedengerin lagu korea, sampai saya dikenalin sama yang namanya Running Man dan suka sama ini acara. Dari situ muncul ketertarikan untuk pergi ke Seoul, walau jaman dulu yang sibuk dijual adalah tour ke tempat shooting drama Korea dan ngunjungin agensi boyband/girlband, saya sih lebih penasaran dengan makanan dan jajanan Korea.

Rezeki itu nggak kemana..

Yang namanya rezeki itu nggak akan kemana dan nggak bakal ketuker. Walau agak sebel sejak mulai kerja dikira orang Cina, Jepang, atau Korea. Apalagi di kantor selalu disuruh datang rapat kalau yang ngundang dari JICA (katanya senior di kantor, ini kamu aja yang dateng, udah cocok banget). Tiba-tiba dapat sms untuk ikut seminar seminggu di Seoul. Agak deg-degan karena in berarti saya pertama kali dinas ke luar negeri sendiri. Setelah diskusi dan sedikit dorongan, saya pun bersedia.

Dengan waktu yang mepet diurus lah semua. Awalnya yang sudah niat mau pakai paspor biasa dan urus visa sendiri, tapi malah disarankan pakai paspor dinas agar tidak perlu bayar visa. Karena belum punya paspor dinas, maka diuruslah itu paspor dengan sisa waktu kurang dari 2 minggu. H-5 hari makin deg-degan karena belum selesai juga itu paspor. Jadwal keberangkatan yang hari Minggu, berarti hanya punya waktu 3 hari kerja lagi, makin deg-degan karena bisa jadi harus membatalkan keikutsertaan ke panitia secara mendadak (padahal hotel dan tiket sudah dibooking panitia). Jumat siang, dapat sms kalau paspor sudah jadi, dan diserahkan sore (kenyataannya baru jam 7 malam dapat paspornya). Lega rasanya.

Off we go..

Hari Minggu berangkat naik Korean Air yang kerja sama dengan Garuda Indonesia. Jumlah penumpang 19 orang. Iya, 19 orang aja di pesawat jet segede gaban itu. Sampai petugas check in-nya bilang, “saya kasih tempat duduk di row ini sesuai aturan kalau pesawatnya minim penumpang. Setelah itu, bebas kalau mau pindah tempat duduk, selonjoran di kursi atau di lorong pesawat sekalian”. Okelah kalau begitu. Dan kenyataan memang ini pesawat lowong banget. Sampai pramugarinya kurang kerjaan, sedikit-sedikit nawarin makan atau minum (ramen gratis sodara-sodara,haha)

Acara seminar dilangsungkan di Hotel Grand Ambassador. Dari Bandara Incheon sesuai arahan dari panitia langsung menuju tempat bus limo bandara ke arah kota yang berhenti di setiap hotel-hotel utama di Kota Seoul, termasuk Hotel Grand Ambassador. Jadi transport nggak susah. Plus, hotel pun menyediakan shuttle ke tempat – tempat wisata utama dalam Kota Seoul (City hall, MyeongDong, Dongdaemun, Gangnam, Insadong,dll).

Fokus Dulu..

Okay, fokus dulu sama kerjaan. Jadi disini ini dalam rangka seminar mengenai Evaluating the Impact of Development Programs. Diselenggarakan bersama oleh Korea Development Institute (KDI) dan World Bank. KDI sendiri salah satu lembaga pendidikan dan juga think tank untuk kebijakan public di Korsel. Materi yang diajarkan dan disampaikan menurut saya luar biasa bermanfaat, terutama teknik dan metode evaluasi dampaknya. Selain itu, kesempatan juga untuk menambah networking dengan praktisi dari seluruh dunia, peneliti dan mahasiswa KDI. Selain itu, kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya negara lain (selalu amaze dengan reaksi mereka yang kaget soal umur saya dan saya sudah menikah di usia yang menurut mereka sangat muda).

Di awal seminar, Rektor KDI selaku ketua panitia sudah menyampaikan kurang lebih, ”selamat membelanjakan uang kalian di Seoul”, sambil menunjukkan tempat-tempat wisata di sekitar hotel dan di dalam kota Seoul. Peserta pun diberikan satu hari bebas untuk menikmati kota di akhir acara. Mungkin bisa dicontoh oleh panitia-panitia acara di Indonesia agar memperkenalkan objek wisata di sekitar kota tempat diadakan evet-event Internasional sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Setelah mempresentasikan hasil studi evaluasi dampak dari salah satu program beasiswa di Indonesia di hari terakhir seminar, saatnya jalan – jalan.

Plesiran..

Sudah banyak banget info tentang Seoul di web dan blog yang beredar di internet. Jadi saya share gambar aja.

Trivia:

Padahal tahun itu, saya dan istri sudah berencana wisata ke Seoul, apa daya ternyata saya berkesempatan seminar seminggu dibayari sponsor. Istri pun berangkat ke sana dibiayai kantor 3 minggu kemudian. Walau jadinya jalan sendiri-sendiri, masih tetap niat untuk beneran jalan-jalan bareng ke Seoul, yaa, hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: