Skip navigation

4 tahun kerja belum juga ngambil S2. Bukannya saya yang malas cari sekolah dan beasiswa, tapi memang berbagai pertimbangan pribadi yang menunda untuk segera mengambil sekolah. Alhamdulillah kantor selalu mendukung bahkan kalau ada tawaran training atau pelatihan – pelatihan. Termasuk waktu ditawari short term award dari DFAT (Department of Foreign Affair and Trade) Pemerintah Australia untuk pelatihan sekaligus gelar graduate certificate di bidang data science / big data terkait penyusunan kebijakan publik. Berhubung di kantor selalu jadi ‘The IT Guy’, yang bergelar tidak resmi, seperti MPP (Master of Power Point) dan ME (Master of Excel). Berhubung saya toh belum sekolah S2, mulai suntuk dengan pekerjaan kantor yang masalahnya itu-itu saja tanpa ada perbaikan berarti, dan tes IELTS yang dibayari oleh Australia Awards Indonesia (AAI), akhirnya saya pun coba daftar, siapa tau lolos.

Oiya, sedikit info buat yang belum familiar dengan Graduate Certificate. Untuk pendidikan di Australia dan New Zealand, mereka membagi jenjang pendidikan post graduate menjadi 4 (sumber: www.studyinaustralia.gov.au ), yaitu

(1) Graduate Certificate = program selama 6 bulan yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1) untuk memperluas keterampilan yang telah dimiliki dari jenjang sarjana atau mengembangkan pengetahuan di bidang baru.

(2) Graduate Diploma =  program selama 1 tahun yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1). Di Graduate Diploma akan menerapkan pokok pengetahuan dalam serangkaian konteks agar dapat melakukan pekerjaan profesional atau yang bersyarat keterampilan tinggi dan sebagai jalur untuk pendidikan lebih lanjut.

(3) Master = program selama 1 – 2 tahun yang dapat diambil setelah lulus sarjana (S1). Pendidikan Master meliputi riset independen (Master by Research), perkuliahan tradisional (Master by Coursework), atau kombinasi keduanya (Master by Coursework with Minor Thesis).

(4) Doktor = program selama (umumnya) 3 tahun yang dapat diambil setelah lulus Master (S2). Pendidikan Doktor di Australia berdasarkan program riset, walaupun di tahun pertama terkadang diwajibkan untuk mngikuti perkuliahan beberapa mata kuliah.

Sebagai tambahan, kredit (atau SKS) yang sudah diambil di Graduate Certificate dan Graduate Diploma bisa digunakan saat mendaftar program Master di prodi yang sama, sehingga tidak perlu mengulang mata kuliah yang pernah diambil saat Graduate Certificate atau Graduate Diploma. Keuntungannya, yaitu bisa lulus lebih cepat (1-1,5 tahun) atau bisa diganti untuk mengambil mata kuliah pilihan (elective) yang lain.

Adelaide Sky

Singkat cerita, saya dan 24 orang lain terpilih short term award (STA) ini. Proses tesnya singkat, hanya IELTS dan wawancara. Alhamdulillah nilai IELTS nya ada peningkatan dari tahun 2010 lalu, walaupun sejak di kerja di kantor ini tidak banyak berlatih Bahasa inggris.

Writing : 6.5 –> 6.5

Listening : 7.5 –> 8.5

Reading : 8 –> 9

Speaking : 5.5 –> 5.5 (masih yaaa, speaking nyaaa)

Overall : 7 –> 7.5

DSC_1422

Oktober 2015, akhirnya berangkat juga ke Adelaide. Pertama kalinya long distance marriage sama istri. Alhamdulillah, program Gradcert yang biasanya 6 bulan dibuat intensif jadi hanya 4 bulan (2 bulan, kembali ke Indonesia untuk mencari data selama 4 bulan, dan lanjut 2 bulan lagi di Australia. Kuliahnya sendiri di University of South Australia (UNISA) di Adelaide. UNISA memang bukan “Group of 8” nya universitas di Australia, tapi tergabung di kelompok Australian Technology Network (ATN), dimana mereka memang mempunyai background yang kuat sebagai institute teknologi sebelum menjadi universitas dan fokus pada kolaborasi dengan dunia industri dan riset.

2 bulan pertama, kami dibekali dasar – dasar ilmu data science, seperti big data, data warehouse, statistic for data science, dan business intelligence. Belajar juga program – program yang ga pernah kepikiran untuk belajar hal itu sebelumnya, macam Python, Weka, SQL, SAS, R, Prezi, Tableau dan SPSS (kalau yang ini sih belajar sendiri). Setelah itu, kami kembali ke Indonesia selama 4 bulan. Selama di Indonesia, kami mengikuti seri workshop yang diadakan dan melihat bagaimana implementasi dari penggunaan data science dalam perumusan kebijakan publik. Setelah itu, 2 bulan berikutnya (April – Juni 2016), kami kembali ke Adelaide dan menyusun project dari yang telah kami pelajari. Selain itu, selama 2 bulan ini, kami juga belajar dari para praktisi dan professional di Australia bagaimana mereka menyusun kebijakan publik dan bagaimana mengaplikasikan data science dan analisa data kuantitatif untuk menyusun kebijakan tersebut.

Buat yang penasaran hubungan antara data science dengan kebijakan publik, bisa cek-cek ke webnya pulselab Indonesia. Selain itu, data science dan big data ini salah satu skill dan profesi yang lagi hitz banget sekarang dan masa depan (yang masih bingung mau ambil jurusan apa, coba cek-cek webnya world economic forum).

Long Life Learning

Merasa bersyukur kerja di tempat yang mengajak para pegawainya untuk tidak pernah berhenti belajar hal baru. Saya selalu ingat sat pertama kali dites wawancara waktu melamar kerja disini dan ditanya juga oleh bigbos dalam satu kesempatan setelahnya, kenapa saya mau kerja disini. Waktu itu saya menjawab, saya mau belajar dan belajar. Belajar tidak harus dikonotasikan dengan sekolah atau mendapatkan gelar, tapi belajar hal – hal baru, belajar ilmu kehidupan, entah itu di institusi pendidikan, atau sekadar dari orang yang lebih ahli dan paham.

Nb:

Mencoba perkuliahan ala Ausralia, siapa tau nanti ambil S2 nya disini =P,eh….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: