Skip navigation

I’m baaaack. Back to Australia,wkwkwk..

Tapi kali ini saya ke sini dalam rangka pendidikan Master (S2) di salah satu kampus Go8. Yes, akhirnya saya sekolah lagi, setelah bosan mendengar mantan bos yang selalu menanyakan kapan mau sekolah, akhirnya saya sekolah juga niiih. Lho, kok bisa? kapan daftarnya? Bukannya baru pulang STA dari Aussie? Okay, begini ceritanya.

Daftar Beasiswa

Jadi, sekitar minggu ke-2 April saya baru dapat kabar kalau ada pembukaan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Agak galau, apakah akan mulai mencoba daftar beasiswa dan sekolah mulai tahun 2016 itu atau tidak (banyak pertimbangan, dari mulai keluarga dan pekerjaan). Setelah diskusi dengan istri, akhirnya saya putuskan untuk mencoba mendaftar beasiswa. Toh ini juga baru pertama kali daftar, belum tentu langsung keterima juga, lumayanlah buat pengalaman daftar beasiswa, begitulah pikirku waktu itu.

Berhubung tenggat waktu tinggal 2 minggu-an, dan bulan April di kantor sedang hectic-hectic-nya, plus saya tanggal 29 April sudah harus berangkat lagi ke Adelaide. Jadilah semua dokumen persyaratan dan form yang harus diisi (online via oasis) dikebut untuk disubmit. Yang paling susah adalah meminta surat dari Biro SDM, karena waktu itu bosnya sibuk bener keluar kota, dan akhirnya suratnya baru keluar tanggal 30 April (saya minta di scan dan dikirimkan ke email). Alhasil, aplikasi beasiswa ini baru saya submit di hari terakhir, tanggal 30 April, detik pertama dapat wifi di Adelaide =D,hwhwhw..

AAS ini salah satu beasiswa yang paling lama udah ada di Indo (lebih dari 60 tahun!!). Dulunya bernama Colombo Plan. Australia Awards salah satu beasiswa dari pemerintah asing dengan jumlah penerima terbanyak (atau memang paling banyak). Biasanya, kuotanya lebih dari 300 orang per tahunnya, namun dengan adanya pemotongan anggaran pendidikan di Australia, jumlah ini berkurang (waktu saya daftar  tahun 2016, kuotanya 300 orang, 50% dari pemerintahan / universitas, 50% dari umum). Mantan Wapres kita, Pak Budiono, salah satu penerima beasiswa ini yang terkenal (selain saya pastinya,hohoho). Mereka juga sangat mendukung kesetaraan antara penerima laki dan perempuan akan diterima. Selain itu, mereka juga memberi kemudahan bagi penyandang disabilitas dan pelamar dari daerah tertentu (seperti Aceh, NTB, NTT, Papua, dan Papua Barat).

Selain beasiswa post-graduate, AAS juga memberikan berbagai short-course/workshop (short term awards). Jadi, rajin-rajin aja lyat websitenya, yaa.

Proses Seleksi

Pembukaan beasiswa hanya 1 tahun sekali. Umumnya dibuka awal Februari. Dan berakhir di akhir April. Hasil seleksi dokumen diumumkan sekitar bulan Juli, dan masuk ke dalam tahap shortlisting. Di tahap ini, kita diwajibkan untuk mengikuti tes IELTS (dibiayai AAS =9) dan wawancara. Tes IELTS ini nantinya akan mengukur kemampuan Bahasa Inggris kita dan berpengaruh berapa lama persiapan yang dibutuhkan sebelum kita berangkat ke Australia setelah diterima beasiswa AAS. Nilai minimal yang diterima kalau tidak salah adalah 5 atau 5.5.

Setelah 2-3 minggu, nilai IELTS bisa dilihat online. Dokumen IELTS asli langsung dikirim ke AAS. Alhamdulillah nilai saya waktu itu sudah tidak ada yang di bawah 6, walaupun hampir semua nilainya turun.

Writing : 6.5 –> 6.0
Listening : 8.5 –> 7.5
Reading : 9 –> 8
Speaking : 5.5 –> 6.5 (alhamdulillah, 4 bulan di Adelaide bisa memperbaiki nilai speaking)
Overall : 7.5 –> 7.0

Untuk tes wawancara, kita diwawancara dalam Bahasa Inggris oleh 2 orang interviewer untuk pendaftar master program dan 4 orang untuk pendaftar program S3. Pewawancara biasanya 50% laki-laki dan 50% perempuan, dan 50% adalah orang Indonesia dan 50% adalah orang Australia.

Jujur saja, tes wawancara saya (menurut saya pribadi) tidak berjalan dengan mulus. Apalagi untuk saya yang selalu demam panggung dan sulit berbicara dengan orang baru. Walau akhirnya alhamdulillah saya diterima.

Sedikit saran untuk tes wawancara ini. (1) Baca lagi jawaban kita dalam aplikasi beasiswa, tapi jangan dihapal karena wawancara bisa melebar ke diskusi yang tidak kita sangka. (2) Siapkan argument kenapa kita memilih program atau universitas yang kita incar, dan apa manfaatnya bagi Indonesia dan hubungan Indonesia – Australia. (3) Dan terakhir, jadilah diri sendiri dan presentasikan dirimu apa adanya. AAS tidak hanya mencari orang pintar, tetapi mencari orang yang mampu dan ingin berkontribusi bagi bangsa dan hubungan baik kedua negara.

Pengumuman akhir keluar di bulan September. Yup, tahapannya ‘cuma’ segitu aja.

Sudah keterima beasiswa AAS, lalu??

Seperti yang disebutkan sebelumnya, setelah diterima beasiswa AAS, awardee (penerima beasiswa) diwajibkan untuk ikut pre-departure training (PDT) di Jakarta atau di Bali. Lamanya PDT tergantung pada nilai IELTS yang kita dapat. Berhubung nilai IELTS saya sudah mencukupi untuk daftar ke program dan kampus di Australia, saya hanya ikut PDT selama 7 minggu. Selain 7 minggu, ada kelas 9 minggu, 3 bulan, 4,5 bulan, dan 6 bulan.

Dalam PDT ini kita mendapatkan materi persiapan IELTS (bagi yang nilainya belum mencukupi), academic preparation (persiapan menghadapi pola dan system perkuliahan di universitas di Australia, seperti menulis essay/report, membuat referensi, diskusi kelompok, presentasi, dan lainnya). Selain itu, kita juga mendapatkan pemahaman tentang budaya di Australia, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di sana dan berinteraksi dengan orang Australia dan siswa internasional lainnya. Juga info dan sharing session mengenai biaya hidup, iklim, persiapan sebelum berangkat (dokumen yang harus disiapkan, baju dan barang yang harus dibawa,dll), juga info bagi yang ingin membawa keluarga.

Kita juga mendapatkan kesempatan selama 1 hari untuk bertemu dengan perwakilan semua universitas di Australia dalam sesi Information Day. Di sini kita bisa mendengan info tentang universitas dan program yang kita incar langsung dari perwakilan universitasnya.

Oiya, selama kita PDT, kita diberi semacam ‘uang saku’, sangat bermanfat terutma bagi teman-teman yang harus resign dari kantornya untuk sekolah dan yang dari luar daerah PDT.

Setelah PDT-pun, awardee juga mendapat IAP di kampusnya masing-masing selama 5 minggu. Karena itu, biasanya awardee AAS berangkat lebih awal dari penerima beasiswa lainnya (awal Januari untuk Spring intake, dan awal Juni untuk Fall intake)

Kesan yang saya dapat selama PDT adalah beasiswa AAS ini benar-benar beasiswayang memberikan ‘karpet merah’ bagi awardee-nya. Officer di Indonesia ini sangat professional dan benar – benar membantu awardee dari sebelum berangkat, bahkan hingga sudah sampai di Australia. Bahkan di universitas – universitas di Australia, penerima beasiswa AAS juga memiliki semacam Liaison Officer khusus untuk mensupport awardee selama bekuliah di Australia. Salut..

Nb:

  1. Semua cerita di tahun 2016. Praktis efektif kerja di kantor Cuma 7-8 bulan saja. Karena 2 bulan full saya harus ke Adelaide untuk meyelesaikan STA. Begitu pulang, selesai Ramadhan pengumuman LTA AAS dan PDT 7 minggu. Plus dinas, cuti, dan persiapan berangkat sekolah lainnya =D
  2. Kebetulan di waktu yang bersamaan, ikut mendaftar beasiswa Pemerintah New Zealand (NZAS). Sedikit info, batas akhir pendaftaran sama dengan beasiswa AAS (akhir April setiap tahunnya), kuota memang lebih sedikit dari beasiswa AAS, proses seleksi hampir sama dengan beasiswa AAS (tapi bahasa Inggris / IELTS dilakukan belakangan dan untuk tes wawancaranya saya diwawancarai oleh 3 orang, perwakilan pemerintah NZ dan perwakilan di Indonesia). Berhubung pengumuman  beasiswa AAS lebih awal, saya pun akhirnya memilih AAS.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: